RSS

Karena Cinta, Ia Kembali Bahagia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu bulan sudah, farid berkutat dengan lingkaran kekecewaan, ada yang hampa dalam hidupnya, hilang arah  tanpa tujuan, kini ia hanya menjalankan rutinitas kuliahnya saja, tanpa ruh dan semangat dakwah yang tinggi.
Dalam jangka waktu itu, ia pun hilang dalam lingkaran ukhuwahnya, tanpa kabar, ia sengaja menutup dirinya, ada perasaan malu, kecewa, marah, bercampur dalam satu warna hatinya. Meski ajakan untuk kembali ngaji terus menerus dilakukan oleh teman-temannya, tetapi ia kerap menolak dengan berbagai alas an.
“aduh, tugas hari ini banyak banget, mana besok harus dikumpulin”, gumam farid, sedikit menggerutu.
“ya sudah, tidur dulu aja ah, besok pagi aja ngerjainnya”, dengan pasrah, ia menyerah dengan kumpulan tugas-tugas kuliahnya. Maklum, menjelang semester akhir, belum lagi skripsi yang belum mendapat restu dari dosen pembimbingnnya.

“Astaghfirullah, sudah jam 5, Innalillah”, secepat kilat ia meluncur ke kamar mandi, menggosok gigi sekali gosok, dan wudhu dengan cepatnya.
“Assalamu’alaikum warahmatullah wabakaratuh, Assalamu’alaikum warahmatullah wabakaratuh.”
Dalam salam terakhir itu, yang Ia ingat adalah tugas-tugasnya yang masih berserakan dimeja, namun seketika ia panik, karena jam sudah menunjukkan pukul 6.15, ia ingat janji bertemu dosen pembimbing hari ini.
Setelah mandi sekedarnya, ia bergegas dengan sepeda motornya, sesampainya di lampu merah, karena terburu-buru, farid berusaha menerobos , namun tiba-tiba,  dari sebelah kanan meluncur mobil dengan kecepatan tinggi yang langsung menabrak farid.
Gubrak!
“Astaghfirullah”, dengan jantung berdebar dan tubuh yang berkeringat, ia tersadar dari tidurnya.
“Alhamdulillah, hanya mimpi”.
Sesaat kemudian ia beranjak menunu kamar mandi, dan menenangkan dirinya dengan basuhan air wudhu. Mimpinya tadi terasa begitu nyata. Jiwanya kembali tenang.

——————————————————————

“Assalamu’alaikum, akh hari ini bisa ketemu gak”?
Satu nomer tidak kenal, membuat farid bertanya-tanya.
“Alaikumsalam, afwan. Ini dengan siapa? Insya allah ana siang ini kosong, kalau pagi mau ketemu dosen pembimbing”.
“oia, afwan, ana imam, suaminya hani. Ba’da dzuhur kita ketemu di mushola ya akh. syukron”, jawaban singkat dari nomer yang tidak dikenal.
Berjuta Tanya memenuhi ruang pikiran farid. Hanifah. Nama itu kembali muncul ketika farid berusaha melupakannya. Namun, ini dari suaminya. Apa yang ingin dibicarakan, farid menebak-nebak maksud imam, suaminya hani.

“Akh, ana dideket perpustakaan, pake kemeja biru, antum dimana? Ana tunggu disini yah”.
satu pesan masuk.
“Assalamualaikum, akh imam?”, Tanya Farid.
“iya, antum Farid?”, Tanya imam.
“iyah akh”.
“alhamdulillah, kita ngobrol disini aja yah, ana bawa martabak ini, dimakan akh, santai aja yah ngobrolnya”.
Suasana sejuk, santai, dan bersahabat, menambah akrab suasana siang itu. Udara yang panas, seakan tak berasa.
“gini akh”, imam mulai membuka pembicaraan.
“Ana tahu tentang cerita antum dari istri ana. Guru ngaji antum bilang ke hani waktu itu, kalau antum bermaksud menikahinya, namun antum belum siap.  Seketika itu hani serba salah, ia ingin menerima dan menunggu antum, tetapi disisi lain, ia tidak mau menyakiti perasaan sahabatnya”.
“Maksud antum?” Tanya farid, menyela cerita akh imam.
“Sebenarnya ada akhwat yang memiliki kecenderungan sama antum, dan akhwat itu hanya menceritakan perasaannya kepada hani, teman satu halaqahnya”.
“ Karena tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya, hani meminta kepada guru ngajinya untuk mencarikan seorang ikhwan segera, agar bisa menutup pintu harapan antum. Dan seketika itu, ana dikenalkan oleh guru ngajinya, selang sebulan, kami pun sepakat untuk menikah. “
“Istri ana, Hani, ingin sahabatnya berjodoh dengan antum, karena menurutnya, kalian cocok dan serasi.
“Ana boleh tahu siapa akhwat itu”, Tanya farid penuh heran.
“Kata istri ana, antum pasti kenal. Katanya, kalian pernah ketemu saat baksos dulu.”
“Ana minta kontak guru ngaji antum aja, biar nanti bisa langsung diproses”.
“Tapi, ana gak tahu siapa akhwatnya akh, ana harus tahu dulu, baru bisa diproses”, jawab farid.
“lagipula, sudah sebulan ini ana gak ikut ngaji lagi akh”, lanjutnya.
“Loh. Kenapa akh?”, Tanya akh imam dengan kagetnya.
“akhi, dalam kondisi apapun, ruh kita perlu dijaga, salah satunya dengan mengikuti pengajian, yang tidak hanya ilmu yang disampaikan, akan tetapi ukhuwah atau persaudaraan. Ukhuwahlah yang membuat ruh kita bersemangat dan meningkat”.
“ana akan kasih tahu siapa akhwat itu, tetapi melalui guru ngaji antum”.
“thayyib, ini nomernya, nanti ana kontak beliau, sebenarnya, ana juga kangen, pengen kembali bersama  teman-teman pengajian. Ana butuh mereka, dan ana butuh dakwah bersama mereka”.
“thayyib, Alhamdulillah, segerakan menuju ampunan dan surga Allah akhi, berkumpulah dengan orang-orang soleh.”

Obrolan panjang siang itu, terasa menyejukkan suasana farid.
Ia seakan mendapat kekuatan besar yang menggerakan langkahnya, bukan tentang siapa akhwatnya. Akan tetapi, keinginan kuat untuk kembali mengikut pengajian pekanan, bersama guru dan teman-temannya itulah yang membuat farid begitu bersemangat.

“Assalamu’alaikum, afwan ustad, ana farid, ana boleh ikut pengajian lagi gak ustad?”
“Alaikumsalam, akhi farid, kita semua kangen sama antum, setiap ajakan kita gak pernah antum pedulikan, namun, dalam setiap akhir pengajian, kita selalu berdoa untuk antum. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa ana dan teman-teman antum, seperti biasa, kita liqo setiap malam jumat, kali ini di rumah ana.”
“Oia akh, akhwat yang diceritakan akh imam, namanya Ulfa. Kalau antum sudah siap dan ok, biar pekan ini bisa langsung diproses.”

“Iya Ustad, insya Allah, kalau menurut Ustad, akhwat ini cocok dan baik untuk ana, insya Allah, ana percaya sama ustad.”
“Thayyib, insya Allah. Jangan lupa yah, malam jumat liqo dirumah ana, dan nanti akhir pekan, antum ke rumah ana yah, biar langsung ta’aruf sama akhwatnya.”
“Iyah Ustad, syukron”.
Setelah menutup telponnya. Ia merebahkan dirinya.

Farid membuka memorinya, mengingat-ingat satu nama, Ulfa.
kemudian ia teringat dengan satu sosok yang begitu menjaga hijabnya, yang menjaga pandangannya, sosok yang anggun.  Apakah, sosok itu yang bernama Ulfa? Yang selalu dibicarakan oleh teman-temannya? Yang terkenal dengan kebaikan akhlak dan agamanya?
Farid kembali bertanya-tanya.  Namun, yang membuatnya bersemangat, bukan karena akhir pekan ini ia akan ta’aruf dengan seorang akhwat, tetapi, pertemuan kembali bersama sahabat-sahabat perjuangan.
Kini ia sadar, apa yang menurutnya baik, belum tentu baik menurut skenario Allah.  Dalam kasus jodoh,
lelaki yang baik, insya Allah akan mendapatkan wanita yang baik. Kini, farid berusaha memperbaiki dirinya, memperbaiki kembali niatnya, dan yang lebih utama, memperbaiki imannya.
Seketika ia ingat akan firman Allah,
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)

Karena cinta, membuat kita bahagia.
Cinta suci, cinta yang mengilhami.
Cinta kepada yang Maha Mencintai.
Inilah kebahagiaan hakiki.
Cinta bersama para pecinta.
Dijalan CintaNya para Pejuang dakwah
Cinta inilah, yang kan menghantarkan kita kepada belahan jiwa.
Cinta inilah yang membuat kita bahagia.

 
1 Comment

Posted by pada 3 Januari 2012 in Cerpen

 

Karena Cinta, Ia Mundur Tanpa Berita

“Assalamu’alaikum. Akh, pekan depan bisa ngisi pengajian di majlis taklim mushola al ikhlas akh? Materinya tentang pentingnya akhlak dalam pergaulan.
Syukron”
“Ya. Insya allah akh”.

Hampir tiap pekan akh farid mendapatkan sms atau telp seperti itu. Dari yg sekedar ngisi kultum sampai menjadi khatib jumat.
Wajar saja, karena ia kuliah di salah satu kampus syariah ternama dikotanya.
Namun tidak hanya itu, ia juga aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya.

“Akh farid, pekan depan ada pengobatan gratis dan bazzar juga. Tempatnya didekat rumah antum. Bisakan antum kondisikan dan sekaligus publikasi buat acarnya.”
“Siap akh. Insya allah. Berapa target pesertanya?”
“Kalau untuk pengobatan 100 orang akh, kalau bazar mah satu kampug aja nte ajak, biar laris dagangan kita.. Haha”
“Haha… Oke bro.. Siap laksanakan..
Kalau begitu ana duluan. Langsung persiapkan strategi nih.
Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”

Farid bergegas meninggalakn masjid, tubuhnya yang tegap meski sedikit kurus melangkah dengan cepat menuju sepeda motor yang diparkir dihalaman.
Itu memang sifatnya. Selalu bersegara dalam menyambut amal dakwah.

Ini data ibu-ibu rw 4, ini rw tetangga, em..gimana kalau rw tetangga diajak juga biar tambah rame. . Pikir farid.
Kamar kosnya yang berukuran 3×3 meter itu dipenuhi dengan berkas dan data warga yang serig ikut dalam kegiatan sosial.
Ada juga data peserta majlis taklim rutin di mushola.
Kamar itu seakan menjadi kantor besar yang penuh dengan gagasan dan rencana masa depan.

Malam itu, saat teman-teman yang lain sudah pulang dari “lingkaran malam”, farid berbincang dengan murobinya.
Semilir angin dingin yang menusuk menemani perbincangan malam itu.

“Afwan, Ustad, sebenarnya, ada yang ingin ana sampaikan sama ustad.”
“Iya, akh, Tafadhal, ana siap mendengarkan.”
“Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu, pikiran ana sedikit terganggu ustad.
ini mungkin yang menyebabkan kerja-kerja dakwah ini sedikit berkurang.”
“Memangnya, apa yang antum pikirkan?”
“Dalam setiap agenda-agenda dakwah, ana selalu bertemu dan bekerja dalam bidang yang sama dengan seorang akhwat.
Awalnya sih biasa aja, ana tetap menjaga hijab dan pergaulan. beliau pun juga demikian sangat menjaga hijab dan pandangannya.
namun lama-lama, entah kenapa, ane selalu menanti-nanti agenda-agenda sosial datang, selalu menanti saat rapat tiba,
bahkan kalau belum ada, ana sendiri yang inisiatif mengadakan agenda.
dan sekarang, pikiran ane jadi aneh ustad, sering melamun, semangat yang naik turun, dan yang lebih parah lagi, selalu saja ingin bertemu dengan akhwat itu.
“Antum sedang jatuh cinta akhi..”
“Jatuh cinta?? apa iyah ini yang namanya cinta ustad?? ane hanya kagum aja sama beliau.”
“iyah, itu cinta, cinta bisa timbul karena rasa kagum,
“Kalau memang antum sudah siap, dan berani, ana bisa bantu akhi”.
“Maksudnya Ustad??”
“iya, ana bantu taaruf dengan akhwat itu, daripada antum galau kayak gini, lebih baik dihalalkan saja”, papar ustad dengan tegas.
“Aduh, ana gak berani ustad, ana belum siap sepertinya, tabungan ana aja masih sedikit, ana masih kuliah sambil ngajar les dan bimbel. ana msh harus nabung dan siapin mental dulu nih ustad.”
“Ya sudah, kalau belum siap. nanti kalau udah, antm bisa hubungi ana ya”
“iya Ustad, insya Allah. Syukron ustad. Sudah malam , ana pamit dulu. Assalaumu’alaikum.”
“iyah. afwan, alaykumsalam”

Farid menjadi lebih bersemangat, setelah curhat pada malam itu, ia semakin bersemangat dalam aktivitasnya, ia mulai menabung dan mempersiapkan ilmu rumah tangga.
Setelah beberapa bulan, akhirnya farid bertemu dengan ustadnya, persis sama dengan malam ketika ia mencurahkan hatinya kpada sang Ustad.
setelah teman-temannya pulang dalam lingkaran ukhuwah itu, ia mengutarakan maksudnya.

“Ustad, afwan, ana insya Allah sekarang sudah siap, tabungan ana juga sudah cukup sepertinya. Gimana nih ustad, kapan kira-kira ana bisa ta’aruf dengan akhwat itu?”
sang Ustad kemudian meminum teh hangat didepannya, sambil mengambil nafas dalam-dalam, ia kemudian bercerita,
“afwan akhi, sepertinya, ana gak bisa membantu antum untuk taaruf dengan akhwat itu”.
“loh, memang kenapa Ustad? bukannya waktu itu antum mau membantu ana taaruf dengannya?”
“iyah akhi, masalahnya, akhwatnya sudah dikhitbah oleh lelaki lain. Afwan, kabar ini baru ana dapatkan minggu lalu, dan baru ana kabarkan ke antum malam ini”

hening… sunyi… malam itu, farid terdiam, perasaannya tak menentu, kadang ada rasa menyesal, kadang marah, kadang sabar dan pasrah, segalanya membaur dalam hati dan pikirannya.
Malam itu, ia pulang dengan tertunduk. Badannya yang tegap tiap kali melangkah, sekarang terlihat bungkuk dan lemah.
Ia Marah, terhadap dirinya, terhadap kehendakNya yang tidak sesuai dengan harapannya.
Malam itu, seakan semuanya gelap, ia sudah tidak bisa melihat dengan jernih, emosinya, amarahnya, rasa kesalnya, telah menutupi hati dan pikirannya.

“Sudah kumpul semua nih, afwan, ana agak terlambat, tadi anak ana agak sedikit panas, alhamdulillah, sekarang sudah tidur”
“afwan, ustad, akh farid belum datang, sudah ana sms dan telepon, tapi tidak ada jawaban.”
“oh gitu, sudah coba cek ke rumahnya?”
“belum ustad”
“thayyib, gak apa-apa, mungkin beliau telat dan ada urusan, kita mulai aja. Mcnya siapa malam ini?”
“mcnya akh irsad, khatirul imaniyah akh rijal, konsumsi biasa, tuan rumah, hehe”

Setelah hampir satu bulan, akh farid tidak pernah datang dalam halaqah pekanan, pun dalam agenda-agenda rabthul’am, dan dalam agenda-agenda dakwah.
teman-temannya sudah tidak bisa membujuknya, segala cara sudah dilakukan, namun, tetap tiada hasilnya.
akh farid semakin sulit untuk diajak kembali. Cinta, telah membuatnya buta, dan mundur tanpa berita.

————————————————————————————————
Perbaharui kembali niat kita dalam dakwah ini,
walaupun cinta kadang datang karena kekaguman,
walaupun cinta kadang menjadi semangat dalam berjuang,
namun, tetapkan cintamu, hanya pada yang Maha Mencintai
Cinta yang mengantarkan kita ke Surga,
Bukan Cinta yang membuat kita mundur tanpa berita,
Bukan cinta karena hawa nafsu semata.

* Afwan, kalau ada nama-nama yang mirip atau sama, itu hanya permisalan saja.

Jakarta, 11 Muharram 1433H

Fajar Fatahillah

 
Leave a comment

Posted by pada 7 Desember 2011 in Cerpen

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.