RSS

Keaslian Dakwah

09 Jul

Perjuangan
Ikhwah wa Akhwat fillah,
Dakwah pada jaman sekarang ini sedang mengalami degradasi kualitas dan tadhiyyah (pengorbanan). Itu yang saya cermati dan rasakan di dalam realita kehidupan. Kita seperti buih di lautan,banyak namun tidak memberikan manfaat dan hasil yang maksimal, yang ada adalah timbul tenggelam tersapu ombak. Kita seringkali tersapu oleh ombak kenikmatan yang melalaikan dari berjuang di jalan dakwah. Kita juga terlalu terpaku pada sarana dan fasilitas untuk berdakwah,sehingga kadang kita meninggalkan kewajiban karena tidak ada kendaraan,atau tidak punya legalitas dan sarana yang memadai. Kita terlalu manja untuk bahkan di lingkungan keluarga dan tetangga kita sendiri. Kita lebih sibuk mencari. Mengkritik dan mengomentari kesalahan orang lain, wajihah lain dan organisasi lain tanpa mau bersatu membicarakan dan memecahkan solusi umat saat ini
Islam adalah agama rahmat untuk seluruh alam. Dan kita sebagai para da’I dan penyeru kebaikan adalah wajib dalam menyebarkan rahmat itu.Beruntunglah kita berada dalam kafilah ini!
Islam juga mengajarkan kita untuk menyampaikan kebaikan walaupun satu ayat.Kita juga wajib untuk saling menegur dan menasehati dalam keimanan dan ketakwaan. Dan begitu banyak lagi kewajiban dan tugas kita sebagai seorang aktivis dakwah untuk menyeru ke jalan Allah,menyembah-Nya dan bertakwa dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.
Akhi wa Ukhti fi sabilillah
Suatu sore, saya bertemu dan berdiskusi dengan seorang jama’ah di sebuah masjid ketika selesai sholat asar. Beliau adalah salah satu jama’ah (baca:Jama’ah tablig) yang berdakwah dari satu mesjid ke mesjid yang lainnya dalam waktu 40 hari. Inti dari pembicaraan kami waktu itu adalah tentang kondisi umat islam yang banyak namun sangat sedikit yang faham dengan keislamannya. Salah satu parameternya adalah Sholat berjamaah di mesjid. Begitu banyak mesjid yang sangat megah dan indah, namun sepi dari hamba-hamba yang sujud di dalamnya. Ironis memang.
Kondisi seperti inilah yang harusnya menjadi perhatian para penyeru dakwah ini. Membuka kembali materi tentang dakwah yang berarti mengajak dalam setiap kondisi,mengajak keluarga kita, tetangga kita, dan semua orang untuk mendapatkan rahmat dan hidayah Allah swt. Kembali kepada keaslian dakwah itu sendiri dalam bingkai keimanan dan keislaman. Menguatkan kembali barisan jama’ah dakwah kita, bersatu bukan saling lempar batu,berjuang tanpa pamrih, berkorban dengan harta dan jiwa,mencari solusi bukan saling caci maki.
Perumpamaan umat islam saat ini adalah seperti kipas angin yang berwarna warni, ketika kipas tersebut tidak difungsikan, masing-masing berjalan sendiri. Namun ketika kipas tersebut dinyalakan, akan mendatangkan kesejukan, kebersamaan, saling memberi dan mendorong dalam kebaikan.
Mari kita kembalikan manhaj dakwah ini kepada manhaj yang asli. Tanpa rekayasa, kepalsuan dan kemunafikan.Tanpa perpecahan dan permusuhan.Tanpa saling melempar tanggungjawab.
Teringat ungkapan almarhum ustad Rahmat Abdullah, “Seonggok kemanusiaan terkapar,siapa yang mengaku bertangungjawab, bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagainnya. Saya harus mengambil alih tanggungjawab ini dengan kesedihan yang sungguh seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakan kaki di mata air peradaban modern ini.”
Mari kita berjuang di dunia berharap pertemuan di Surga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Juli 2009 in Dakwah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: