RSS

Bekal Aktivis Dakwah Dalam Surat Al Qalam

20 Okt

Berbicara tentang Surat Al Qalam yang berarti pena, maka kita akan sedikit juga berbicara tentang Juz 29. Surat ini adalah surat ke 68 dan termasuk surat-surat yang diturunkan di Mekkah.
Juz 29 merupakan juz yang banyak menjelaskan tentang dakwah, bekal, sejarah dan contoh-contohnya.
Seperti dalam surat Al Mulk berisi bekal dai, Al Qalam bekal dai berupa ilmu yang benar, Al Haqqah bekal dai berupa tadzkiroh, ada juga surat Nuh yang berisi contoh dai dari kalangan Manusia, dan surat Al Jin yang berisi contoh dai dari kalangan jin, dan surat-surat lainnya, seperi Al Muzzammil, Al Muddatstsir, dan lainnya.
Ada beberapa Hikmah yang terkandung dalam surat Al Qalam ini,
pertama hikmah secara umum, sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, Al Qalam juga berisi tentang taqrir yang memperkuat aspek aqidah serta penegasan penetapan kenabian Saw.
Hikmah yang kedua, bersifat khusus, yaitu perintah untuk mengikat ilmu dengan menulis dan mencari ilmu dengan informasi yang benar atau shohih.
Pesan Khusus,
– Urgensi Ilmu Bagi para dai
[68:1] Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
ketika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan argumentasi kita. Untuk itulah kenapa Ilmu begitu penting, sehingga Allah berfirman dalam sural Al Qalam ayat 1 tentang ilmu ini. Inilah bekal yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga dimasa yang akan datang, untuk generasi mendatang.
ayat ini menarik, karena secara tersirat Allah swt menuntun kita agar memperhatikan perkembangan dunia tulisan, yang dahulu kala menggunakan tinta, sekarang sudah melalui dunia maya. Seorang dai harus melek teknologi, karena tulisan era sekarang tidak lagi berupa dalam selembar daun, kertas, atau batu tapi sudah melalui teknologi ebook, internet, dan lain sebagainya.

– Pahala bagi seorang dai
[68:3] Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
Ketika kita mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw, kita tenta akan mendapat pahala atas amal yang kita kerjakan. Akan tetapi Rasulullah saw, para sahabat, dan orang-orang yang mengajarkan ilmunya, juga akan mendapatkan pahala meskipun mereka telah tiada. Inilah yang disebut amal jariyah, yang tiada terputus.
Inilah pahala yang besar yang tiada terputus bagi seorang dai, yang menyebarkan ilmunya kepada semua orang, baik diri, keluarga dan lingkungannya. Dan salah satu cara yang membuat karya dan dakwah kita terus menerus diikuti orang adalah dengan menuliskannya dalam sebuah artikel, buku, kitab dan media lainnya yang akan bermanfaat tidak hanya saat ini tapi juga beberapa generasi mendatang. Bayangkan berapa besar pahala yang akan kita dapatkan kaerna tulisan dakwah kita mampu membuka hidayah banyak manusia?

– Pentingnya Akhlak sebagai bekal Dai
[68:4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Dalam hinaan dan cacia yang makin lama makin mencekam, Nabi saw menghadapi dengan santun dan akhlak yang agung. Meski mendapat siksa, intimidasi, boikot dan segala bentuk upaya untuk menghentikan dakwah Nabi dilakukan, akan tetapi Nabi bersama para sahabatnya tetap tegar.
Inilah rahasia dakwah Beliau saw, akhlak!
Hadapi segala rintangan dakwah ini, fitnah, dan kekerasan dalam bentuk fisik, dengan akhlak yang baik, bijaksana dan dengan cara yang benar. Biarkan mereka yang menyakiti kita, melihat akhlak kita, dan siapa tahu, mungkin esok ia akan menjadi penopang dakwah kita yang paling keras dan tegas terhadap musuh-musuh dakwah ini.

– Akhlak terhadap para Pencela
Dalam ayat berikutnya, Allah swt dengan jelas menuntun kita dalam menghadapi hinaan orang-orang yang mengumbar fitnah,
[68:7] Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[68:8] Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
[68:9] Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).
[68:10] Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
[68:11] yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,
[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,
[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

– Futur Dalam Dakwah?
Ada kalanya kita berputus asa, setelah bertahun-tahun dakwah kita tidak ditanggapai dan bahkan dijauhi oleh masyrakat. Maka ayat ini bisa menjadi obat dan penawar, agar tidak mundur dan berputus asa.

[68:48] Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).
[68:49] Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat ni’mat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela
[68:50] Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.

Ia adalah Nabi Yunus as, yang memilih untuk meninggalkan kaumnya yang tidak mau menerima dakwahnya. Dan hal tersebut mendapat teguran dari Allah swt, yang kemudian, Nabi Yunus meminta ampun seperti dalam surat Al Anbiya ayat 87. Doa inilah yang kemudian membuat Allah memberikan nikmat kepadanya dan ampunan.

[21:87] Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Maka, inilah I’tirof Nabi Yunus as, sebagai bekal bagi para aktivis dakwah, ketika merasa tidak ada yang mengikuti panggilan dakwah ini dan bahkan memusuhinya, janganlah berputus asa, dan janganlah mundur, dan banyaklah membaca doa Nabi Yunus ketika didalam perut ikan,

“tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Wallahu’alam.
Maroji’:
– Tafsir Indonesia Depag

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Oktober 2011 in AL Qur'an, Dakwah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: