RSS

Karena Cinta, Ia Mundur Tanpa Berita

07 Des

“Assalamu’alaikum. Akh, pekan depan bisa ngisi pengajian di majlis taklim mushola al ikhlas akh? Materinya tentang pentingnya akhlak dalam pergaulan.
Syukron”
“Ya. Insya allah akh”.

Hampir tiap pekan akh farid mendapatkan sms atau telp seperti itu. Dari yg sekedar ngisi kultum sampai menjadi khatib jumat.
Wajar saja, karena ia kuliah di salah satu kampus syariah ternama dikotanya.
Namun tidak hanya itu, ia juga aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya.

“Akh farid, pekan depan ada pengobatan gratis dan bazzar juga. Tempatnya didekat rumah antum. Bisakan antum kondisikan dan sekaligus publikasi buat acarnya.”
“Siap akh. Insya allah. Berapa target pesertanya?”
“Kalau untuk pengobatan 100 orang akh, kalau bazar mah satu kampug aja nte ajak, biar laris dagangan kita.. Haha”
“Haha… Oke bro.. Siap laksanakan..
Kalau begitu ana duluan. Langsung persiapkan strategi nih.
Assalamu’alaikum”
“Waalaikumsalam”

Farid bergegas meninggalakn masjid, tubuhnya yang tegap meski sedikit kurus melangkah dengan cepat menuju sepeda motor yang diparkir dihalaman.
Itu memang sifatnya. Selalu bersegara dalam menyambut amal dakwah.

Ini data ibu-ibu rw 4, ini rw tetangga, em..gimana kalau rw tetangga diajak juga biar tambah rame. . Pikir farid.
Kamar kosnya yang berukuran 3×3 meter itu dipenuhi dengan berkas dan data warga yang serig ikut dalam kegiatan sosial.
Ada juga data peserta majlis taklim rutin di mushola.
Kamar itu seakan menjadi kantor besar yang penuh dengan gagasan dan rencana masa depan.

Malam itu, saat teman-teman yang lain sudah pulang dari “lingkaran malam”, farid berbincang dengan murobinya.
Semilir angin dingin yang menusuk menemani perbincangan malam itu.

“Afwan, Ustad, sebenarnya, ada yang ingin ana sampaikan sama ustad.”
“Iya, akh, Tafadhal, ana siap mendengarkan.”
“Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu, pikiran ana sedikit terganggu ustad.
ini mungkin yang menyebabkan kerja-kerja dakwah ini sedikit berkurang.”
“Memangnya, apa yang antum pikirkan?”
“Dalam setiap agenda-agenda dakwah, ana selalu bertemu dan bekerja dalam bidang yang sama dengan seorang akhwat.
Awalnya sih biasa aja, ana tetap menjaga hijab dan pergaulan. beliau pun juga demikian sangat menjaga hijab dan pandangannya.
namun lama-lama, entah kenapa, ane selalu menanti-nanti agenda-agenda sosial datang, selalu menanti saat rapat tiba,
bahkan kalau belum ada, ana sendiri yang inisiatif mengadakan agenda.
dan sekarang, pikiran ane jadi aneh ustad, sering melamun, semangat yang naik turun, dan yang lebih parah lagi, selalu saja ingin bertemu dengan akhwat itu.
“Antum sedang jatuh cinta akhi..”
“Jatuh cinta?? apa iyah ini yang namanya cinta ustad?? ane hanya kagum aja sama beliau.”
“iyah, itu cinta, cinta bisa timbul karena rasa kagum,
“Kalau memang antum sudah siap, dan berani, ana bisa bantu akhi”.
“Maksudnya Ustad??”
“iya, ana bantu taaruf dengan akhwat itu, daripada antum galau kayak gini, lebih baik dihalalkan saja”, papar ustad dengan tegas.
“Aduh, ana gak berani ustad, ana belum siap sepertinya, tabungan ana aja masih sedikit, ana masih kuliah sambil ngajar les dan bimbel. ana msh harus nabung dan siapin mental dulu nih ustad.”
“Ya sudah, kalau belum siap. nanti kalau udah, antm bisa hubungi ana ya”
“iya Ustad, insya Allah. Syukron ustad. Sudah malam , ana pamit dulu. Assalaumu’alaikum.”
“iyah. afwan, alaykumsalam”

Farid menjadi lebih bersemangat, setelah curhat pada malam itu, ia semakin bersemangat dalam aktivitasnya, ia mulai menabung dan mempersiapkan ilmu rumah tangga.
Setelah beberapa bulan, akhirnya farid bertemu dengan ustadnya, persis sama dengan malam ketika ia mencurahkan hatinya kpada sang Ustad.
setelah teman-temannya pulang dalam lingkaran ukhuwah itu, ia mengutarakan maksudnya.

“Ustad, afwan, ana insya Allah sekarang sudah siap, tabungan ana juga sudah cukup sepertinya. Gimana nih ustad, kapan kira-kira ana bisa ta’aruf dengan akhwat itu?”
sang Ustad kemudian meminum teh hangat didepannya, sambil mengambil nafas dalam-dalam, ia kemudian bercerita,
“afwan akhi, sepertinya, ana gak bisa membantu antum untuk taaruf dengan akhwat itu”.
“loh, memang kenapa Ustad? bukannya waktu itu antum mau membantu ana taaruf dengannya?”
“iyah akhi, masalahnya, akhwatnya sudah dikhitbah oleh lelaki lain. Afwan, kabar ini baru ana dapatkan minggu lalu, dan baru ana kabarkan ke antum malam ini”

hening… sunyi… malam itu, farid terdiam, perasaannya tak menentu, kadang ada rasa menyesal, kadang marah, kadang sabar dan pasrah, segalanya membaur dalam hati dan pikirannya.
Malam itu, ia pulang dengan tertunduk. Badannya yang tegap tiap kali melangkah, sekarang terlihat bungkuk dan lemah.
Ia Marah, terhadap dirinya, terhadap kehendakNya yang tidak sesuai dengan harapannya.
Malam itu, seakan semuanya gelap, ia sudah tidak bisa melihat dengan jernih, emosinya, amarahnya, rasa kesalnya, telah menutupi hati dan pikirannya.

“Sudah kumpul semua nih, afwan, ana agak terlambat, tadi anak ana agak sedikit panas, alhamdulillah, sekarang sudah tidur”
“afwan, ustad, akh farid belum datang, sudah ana sms dan telepon, tapi tidak ada jawaban.”
“oh gitu, sudah coba cek ke rumahnya?”
“belum ustad”
“thayyib, gak apa-apa, mungkin beliau telat dan ada urusan, kita mulai aja. Mcnya siapa malam ini?”
“mcnya akh irsad, khatirul imaniyah akh rijal, konsumsi biasa, tuan rumah, hehe”

Setelah hampir satu bulan, akh farid tidak pernah datang dalam halaqah pekanan, pun dalam agenda-agenda rabthul’am, dan dalam agenda-agenda dakwah.
teman-temannya sudah tidak bisa membujuknya, segala cara sudah dilakukan, namun, tetap tiada hasilnya.
akh farid semakin sulit untuk diajak kembali. Cinta, telah membuatnya buta, dan mundur tanpa berita.

————————————————————————————————
Perbaharui kembali niat kita dalam dakwah ini,
walaupun cinta kadang datang karena kekaguman,
walaupun cinta kadang menjadi semangat dalam berjuang,
namun, tetapkan cintamu, hanya pada yang Maha Mencintai
Cinta yang mengantarkan kita ke Surga,
Bukan Cinta yang membuat kita mundur tanpa berita,
Bukan cinta karena hawa nafsu semata.

* Afwan, kalau ada nama-nama yang mirip atau sama, itu hanya permisalan saja.

Jakarta, 11 Muharram 1433H

Fajar Fatahillah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2011 in Cerpen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: