RSS

Arsip Kategori: Dakwah

Beginilah Cara Allah menegur kita

IMG-20141221-WA0002

Ikhwah fillah, semoga Allah membersamai setiap langkah dakwah ini.

Pernahkah suatu ketika, kita dalam keadaan yang tidak punya kesibukan apa-apa selain kerja dan mengurus rumah tangga?

Padahal, sepak terjang dan pengalaman kita dahulu adalah seorang aktivis pergerakan yang sibuk mengurus kepentingan umat.

Kemudian tanpa sangka, Allah takdirkan kita untuk mengemban amanah besar yang membuat kita harus mengorbankan waktu-waktu santai kita. Amanah yang tidak kita inginkan dan kita tidak duga akan mengembannya.

Maka, inilah mungkin cara Allah swt menegur kita dan memberikan kasih sayangnya kepada kita. Atau mungkin juga inilah ujian yang Allah berikan untuk menguji kapasitas kita berdasarkan pengalaman dan sepak terjang sebelumnya. Ibarat kata pemain bola yang bersinar pada masanya, yang kemudian redup, dan kembali dipanggil untuk mengembalikan masa jayanya.

Maka, inilah masanya, kita membuktikan kemampuan kita, memberikan kontribusi terbaik kita sebagai hamba kepada Allah swt .

Bersyukurlah kita, Allah swt masih menegur kita, dan membangkitkan kita, dari tidur dan santai yang berkepanjangan. Itu artinya Allah masih menyayangi kita.

Bergerak, Berlayar dalam samudra kehidupan.

Iklan
 

Tag: ,

Keraguan Memimpin Negara

Gambar
Dalam perkembangan dakwah yang kita senantiasa baca dan pelajari, bahwa urutan tarbiyah ini bermula dari memimpin diri sendiri dan kemudian memimpin negara.
Materi-materi pekanan yang menghiasi majlis liqoat sudah sering kita baca dan pelajari.
Pekerjaan-pekerjaan dakwah, amal sosial dan kegiatan-kegiatan dakwah sudah sering kita lakukan.
Gerakan tarbiyah yang bermula dari gerakan sosial, dan gerakan bawah tanah, sekarang sudah menjadi gerakan dakwah yang besar.
Apakah dulu kita pernah membayangkan akan seperti sekarang?
Apakah dulu kita pernah hitung-hitungan ketika memunculkan gerakan tarbiyah di permukaan negara bernama indonesia?
Tapi apa yang kita lihat sekarang?
Gerakan tarbiyah telah menjalar ke seluruh aspek dan elemen negara ini, dengan keterbukaannya, dengan kehangatan dan kesungguhan memberikan amal terbaik bagi bangsa ini.
Lalu kenapa hari ini kita selalu bertanya-tanya, apakah ketika gerakan ini dipercaya memimpin indonesia, mampu mensejahterakan rakyatnya? Dan mendeliverykan setiap gagasan dan ide menjadi program dalam pemerintahan?
Dan dalam keraguan itu ada satu lagi penyakit yang menghambat keyakinan, yaitu keraguan dalam mempersatukan narasi keumatan.
Wahai ikhwah
Gerakan ini, yang telah dideklarasikan oleh imam syahid hasan al banna, adalah gerakan yang hendak mempersatukan narasi-narasi yang saat itu mengalami perpecahan dan pemisahan-pemisahan.
Yang kemudian dimanifestasikan dalam politik pemerintahan saat ini.
Dan jauh sebelum itu, rasulullah saw telah membangun satu basis gerakan yang bermula dari tarbiyah yang kemudian mampu memimpin negara dengan ide dan gagasannya. Dan itu semua berhasil dilakukan ditengah masyarakat jahiliyah yang awalnya ragu dengan gerakan yang dibawa oleh rasulullah saw.
Lalu,kenapa hari ini kita ragu dan takut,jika satu saat kita memimpin negara ini, takut tidak mampu dan tidak bisa.
Tidak ada yang menyangka ketika tiga ratusan kaum muslimin mampu mngalahkan ribuan pasukan kafir quraisy.
Satu kunci yang bisa kita petik adalah sakinah qalbiyah. Ketenangan dan kemantapan hati dan batin dalam meraih kemenangan.
Maka kunci ini, adalah kunci yang tak tergantikan sepanjang jaman.
Kunci inilah yang harus kita gunakan dalam meraih setiap kemenangan.
Kunci inilah yang akan mengilangkan setiap keraguan.
Bahwa kemenangan akan hadir dan menyebarkan kabar kbaikannya kepada kawan dan lawan.
Bahwa kemenangan ini adalah kemenangan semua kalangan.
Bahwa kemenangan ini adalah kemenangan dari narasi keumatan yang telah bersatu dan yakin dengan kemampuan dan kekuatan diri.
Maka. Tidak ada lagi keraguan.
Karena pada saatnya. Kitalah yang akan mengambil alih tongkat kepemimpinan bangsa ini. Dan yakinlah. Bahwa kita mampu memberikan keadilan bagi bangsa ini dalam kesejahteraan.
Sejarah telah membuktikan. Kenapa harus ragu?
Sudahkan ada kemantapan hati dalam diri antum sekalian?
Bahwa kemenangan sebentar lagi akan singgah ditangan kita!
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Maret 2012 in Dakwah

 

Tag:

Biarkan Dakwah Membuka Pintu Cahayanya

Ijinkan saya bercerita tentang anak manusia, tentang seorang teman dan guru yang luar biasa.
Seorang anggota dewan yang bersahaja, yang tidak meninggalkan aktivitas lamanya sebagai pedagang di pasar, yang selalu dekat dengan masyarakat dan peduli terhadap masalah lingkungannya.
Pernah suatu ketika ada tukang becak yang membutuhkan biaya untuk sekolah anaknya,
dia datang ke rumah anggota dewan tersebut, awalnya ia ragu, karena rumah anggota dewan ini tidak seperti rumah layaknya anggota dewan,
dindingnya saja dari triplek, atapnya bocor, sehingga kalau hujan basah ke dalam rumah.
Namun, tukang becak tadi diajak masuk oleh anak pemilik rumah sebutlah namanya imam, dan setelah cerita perihal keperluannya,
imam tanpa ragu memberikan semua uang yang akan digunakan kampanye kepada tukang becak tersebut.
Pernah suatu ketika, umu imam berencena memperbaiki rumahnya, namun imam menolak, karena takut menjadi fitnah.
Sarana negarapun digunakan untuk keperluan rakyat, seperti mobil yg serig digunakan utk mengantar tetangga dan masyarakat yg membutuhkan,
imam sendiri yang menjadi sopirnya.
Kisah lainnya dari pak dede, anggota dewan yg bersahaja, adalah selalu melakukan kunjungan dan memberi bantuan meski ke daerah basis lawan politiknya,
ke daerah yg bukan daerah pemilihannya.
Ditengah kesibukannya, beliau masih mengurus lembaga atau yayasan yg menjadi magnet dakwah dilingkungannya,
yayasan ini telah berkembang dari semula hanya membuka pendidkan tk, sekarang sudah membuka pendidika smpit dan lembaga tahfidz.
Satu hal yang ingin beliau bangun adalah lembaga pendidikan islami yag terjangkau bagi masyarakat, bahkan yang gratis sama sekali.
Beliau ingin memberikan pelayanan berupa pendidikan kepada kader-kader yang kurang mampu dalam mendidik anak-anaknya.
Semoga Allah memberikan keistiqomahan kepada beliau dan keluarga.
———————————-

Ikhwah Fillah,
Biarkan dakwah membuka pintunya dan menyebarkan cahayanya melalui kontribusi nyata.
Rumah yang sederhana yang selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkonsultasi.
Biarkan ia tetap terbuka agar dakwah masuk dengan cepatnya.
Memberi dan menolong siapa yang membutuhkan bahkan mereka adalah lawan atau bahkan musuh kita.
Biarkan dakwah membuka lebar pintu kebaikannya menyebar tanpa batas.
Biarkan dakwah dengan kesederhanaanya, yang membuat lebih mudah dan tidak banyak menjadi fitnah.
Biarkan dakwah menjadi magnet sejarah, dengan kontribusi nyata tanpa banyak retorika, membangun peradabannya dengan sarana yang ada, pendidikan, keterampilan, olahraga dan lain sebaainya. Biarkan dakwah terasa begitu dekat dan nyata.
Biarkan dakwah membuka pintunya dan menyebarkan cahayanya kepada siapa saja,
Maka mereka akan dengan mudah menerima panggilannya,
Tidak perlu dengan harta, tahta ataupun janji-janji belaka,
Cukup dengan kontribusi nyata dan terbuka kepada siapa aja,
Maka, dakwah akan menyebar dengan cepatnya.
Insya Allah
Untuk guru dan sahabat terbaikku, semoga Allah mudahkan jalan dakwahnya, mudah dalam istiqomah dijalanNya.

Fajar Fatahillah
Jakarta, 4 DzulQa’dah 1432 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 November 2011 in Dakwah, Motivasi dan Inspirasi

 

Bekal Aktivis Dakwah Dalam Surat Al Qalam

Berbicara tentang Surat Al Qalam yang berarti pena, maka kita akan sedikit juga berbicara tentang Juz 29. Surat ini adalah surat ke 68 dan termasuk surat-surat yang diturunkan di Mekkah.
Juz 29 merupakan juz yang banyak menjelaskan tentang dakwah, bekal, sejarah dan contoh-contohnya.
Seperti dalam surat Al Mulk berisi bekal dai, Al Qalam bekal dai berupa ilmu yang benar, Al Haqqah bekal dai berupa tadzkiroh, ada juga surat Nuh yang berisi contoh dai dari kalangan Manusia, dan surat Al Jin yang berisi contoh dai dari kalangan jin, dan surat-surat lainnya, seperi Al Muzzammil, Al Muddatstsir, dan lainnya.
Ada beberapa Hikmah yang terkandung dalam surat Al Qalam ini,
pertama hikmah secara umum, sebagaimana surat-surat Makkiyah lainnya, Al Qalam juga berisi tentang taqrir yang memperkuat aspek aqidah serta penegasan penetapan kenabian Saw.
Hikmah yang kedua, bersifat khusus, yaitu perintah untuk mengikat ilmu dengan menulis dan mencari ilmu dengan informasi yang benar atau shohih.
Pesan Khusus,
– Urgensi Ilmu Bagi para dai
[68:1] Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
ketika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan argumentasi kita. Untuk itulah kenapa Ilmu begitu penting, sehingga Allah berfirman dalam sural Al Qalam ayat 1 tentang ilmu ini. Inilah bekal yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga dimasa yang akan datang, untuk generasi mendatang.
ayat ini menarik, karena secara tersirat Allah swt menuntun kita agar memperhatikan perkembangan dunia tulisan, yang dahulu kala menggunakan tinta, sekarang sudah melalui dunia maya. Seorang dai harus melek teknologi, karena tulisan era sekarang tidak lagi berupa dalam selembar daun, kertas, atau batu tapi sudah melalui teknologi ebook, internet, dan lain sebagainya.

– Pahala bagi seorang dai
[68:3] Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
Ketika kita mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw, kita tenta akan mendapat pahala atas amal yang kita kerjakan. Akan tetapi Rasulullah saw, para sahabat, dan orang-orang yang mengajarkan ilmunya, juga akan mendapatkan pahala meskipun mereka telah tiada. Inilah yang disebut amal jariyah, yang tiada terputus.
Inilah pahala yang besar yang tiada terputus bagi seorang dai, yang menyebarkan ilmunya kepada semua orang, baik diri, keluarga dan lingkungannya. Dan salah satu cara yang membuat karya dan dakwah kita terus menerus diikuti orang adalah dengan menuliskannya dalam sebuah artikel, buku, kitab dan media lainnya yang akan bermanfaat tidak hanya saat ini tapi juga beberapa generasi mendatang. Bayangkan berapa besar pahala yang akan kita dapatkan kaerna tulisan dakwah kita mampu membuka hidayah banyak manusia?

– Pentingnya Akhlak sebagai bekal Dai
[68:4] Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Dalam hinaan dan cacia yang makin lama makin mencekam, Nabi saw menghadapi dengan santun dan akhlak yang agung. Meski mendapat siksa, intimidasi, boikot dan segala bentuk upaya untuk menghentikan dakwah Nabi dilakukan, akan tetapi Nabi bersama para sahabatnya tetap tegar.
Inilah rahasia dakwah Beliau saw, akhlak!
Hadapi segala rintangan dakwah ini, fitnah, dan kekerasan dalam bentuk fisik, dengan akhlak yang baik, bijaksana dan dengan cara yang benar. Biarkan mereka yang menyakiti kita, melihat akhlak kita, dan siapa tahu, mungkin esok ia akan menjadi penopang dakwah kita yang paling keras dan tegas terhadap musuh-musuh dakwah ini.

– Akhlak terhadap para Pencela
Dalam ayat berikutnya, Allah swt dengan jelas menuntun kita dalam menghadapi hinaan orang-orang yang mengumbar fitnah,
[68:7] Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
[68:8] Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
[68:9] Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).
[68:10] Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
[68:11] yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,
[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,
[68:12] yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,

– Futur Dalam Dakwah?
Ada kalanya kita berputus asa, setelah bertahun-tahun dakwah kita tidak ditanggapai dan bahkan dijauhi oleh masyrakat. Maka ayat ini bisa menjadi obat dan penawar, agar tidak mundur dan berputus asa.

[68:48] Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo’a sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).
[68:49] Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat ni’mat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela
[68:50] Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.

Ia adalah Nabi Yunus as, yang memilih untuk meninggalkan kaumnya yang tidak mau menerima dakwahnya. Dan hal tersebut mendapat teguran dari Allah swt, yang kemudian, Nabi Yunus meminta ampun seperti dalam surat Al Anbiya ayat 87. Doa inilah yang kemudian membuat Allah memberikan nikmat kepadanya dan ampunan.

[21:87] Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Maka, inilah I’tirof Nabi Yunus as, sebagai bekal bagi para aktivis dakwah, ketika merasa tidak ada yang mengikuti panggilan dakwah ini dan bahkan memusuhinya, janganlah berputus asa, dan janganlah mundur, dan banyaklah membaca doa Nabi Yunus ketika didalam perut ikan,

“tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Wallahu’alam.
Maroji’:
– Tafsir Indonesia Depag

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Oktober 2011 in AL Qur'an, Dakwah

 

Bersama ROHIS, Ku tetapkan Yakinku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
sahabat-sahabat Kerohanian Islam atau sering dikenal ROHIS di seluruh Indonesia, baik tingkat menengah ataupun atas, semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam jalan kalian, dalam keikutsertaan kalian baik aktif ataupun pasif.
Saya hanya ingin sedikit sharing dengan kalian, tentang ROHIS ini, tentang pengalaman, tentang cerita suka dan duka, tentang manfaat teman-teman bergabung dengan ROHIS.

ROHIS, sebuah lembaga yang telah membesarkanku, mendidik dan mengajarkan tentang berbagai hal.
ROHIS merupakan satu lembaga ekstrakulikuler yang lengkap menurut pandangan saya,
ia mengajarkan untuk berorganisasi,
ia mengajarkan untuk dakwah dan ibadah,
ia mengajarkan untuk membina lingkungan sekolah,
ia mengajarkan untuk perencanaan kegiatan,
ia mengajarkan untuk komunikasi efektif,
ia mengajarkan untuk olahraga dan pendidikan jasmani,
ia mengajarkan untuk berjiwa sosial kemasayarakatan,
ia mengajarkan untuk menjadi pemimpin sejati,
ia mengajarkan segala hal yang kita butuhkan dan segala hal yang tidak kita butuhkan tapi bermanfaat untuk kita.

Namun satu hal yang tidak akan ditemui di ekskul manapun adalah ROHIS bisa menjadi jalan Hidayah bagi siapapun termasuk pengurus dan anggotanya. inilah yang akan kita bahas teman-teman.
Jalan kebaikan, jalan petunjuk dan jalan hidayah, insya Allah.
Meskipun kita tidak merasakannya ketika aktif di ROHIS, tidak merasakan seketika itu juga,
tapi yakinlah, suatu saat, kita akan menemukan sentuhan tersembunyi yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini.
Mungkin ketika kuliah, atau setelah kerja, atau bahkan ketika tua renta, kita baru teringat, bahwa awal mula kita mengenal tarbiyah islamiyah (pembinaan islam) adalah di ROHIS ini.
Awal yang mengubah emosi jiwa menjadi jiwa yang teduh penuh cinta,
mengubah dosa menjadi amal pahala,
mengubah rasa takut menjadi berani penuh semangat,
mengubah cara pandang negatif menjadi positif,
Semua mungkin berawal dari sini, dari ROHIS ini.

Oleh karena itu, saya hanya ingin berpesan,
Siapapun kita, apapun latar belakang kita, semaksiat-maksiatnya kita, jangan sampai kita meninggalkan organisasi ini, karena ia adalah jalan yang Allah sediakan, untuk membuka hati, membuka emosi, membuka jalan hidayahNya.
Jalan yang menghadirkan pelaku-pelaku kebaikan,
jalan ukhuwah dan kebersamaan yang erat menyatukan semua potensi kejujuran,
jalan yang suatu saat akan membuat kita sadar, bahwa disinilah kita dibesarkan,
dengan segudang masalah,
Tetaplah berada bersama para pelaku kebaikan,
niscaya kebaikan itu akan mengikutimu,
dan akan mengubah paradigmamu,
bahkan mengubah maksiat-maksiatmu,
Yakin dan tetapkan tekadmu,
inilah jalan terbaik untuk masa depanmu,
bersama ROHIS, aku tetapkan yakinku.

Untuk sahabat ROHIS diseluruh Indonesia, para alumninya,
khusus ROHIS SMA N 55 dan Keluarga Alumni Rohis SMA N 55 (KARIMA),
mari kita bersama menjadi penerus peradaban,
yang melahirkan generasi-generasi rabbani,
mari kita sambut seruan yang mulia,
mari bersama ikuti langkah perjuangan,
di medan dakwah sekolah kita tercinta.

FAJAR FATAHILLAH
– Alumni ROHIS SMAN 55 Jakarta (2004-2006)
– Keluarga Alumni Rohis SMAN 55 (KARIMA)

18 Syawal 1432 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 September 2011 in Biografi, Dakwah, Renungan

 

AKTIVIS DAKWAH KAMPUS DAN ROMANTISMENYA


2 tahun silam, masih teringat tajam Kisah perjalanan sekelompok manusia
‎yang mewakafkan dirinya untuk umat.
Kisah manusia pilihan yang hidup untuk memperbaharui peradaban.
Mereka dipersatukan sejak awal masuk kampus, namun ada juga yang datang kemudian. Mereka belajar bersama, mereka berjuang sama, mereka bergerak bersama, dalam satu cita, Islam.
Perjalanan dakwah tak selamanya dihiasai ukhuwah yang indah, kadang adakalanya timbul pertengkaran kecil, kadang hadir cinta dan persahabatan yang kekal. Semua kejadian, semua problema, semua konflik antar aktivis dakwah, bukan menandakan dakwah menghancurkan ukhuwah, justru dakwah ini telah mempererat ukhuwah.
Ditengah perjalanan masa perkuliahan, ketika tanggung jawab dan amanah sudah waktunya diberikan, merekapun dengan semangat memilih jalan masing-masing, ada yang memilih jalur siyasah ( BEM) , LDK, DKM, Himpunan, dan lembaga-lembaga lainnya baik yang internal ataupun eksternal.
Sejak saat ini, mereka mempunyai tugas dan peran yang berbeda, meskipun tetap berada pada halaqah yang sama.
Roda perjalanan pun berputar seiring jaman. Berbagai masalah dan konflik mulai berdatangan. Inilah ujian keimanan dan tujuan kita dipertemukan dengan tarbiyah.
Ketika ukhuwah mendapat ujian, mulailah timbul ketidakpercayaan, ketika agenda-agenda dakwah berantakan dan saling bertabrakan, mulailah mereka saling menyalahkan. Ketika banyak tantangan dan ujian, tidak sedikit mereka berjatuhan, mundur lantas menghilang dari pentas dakwah.
Ketika halaqah, yang seharusnya menjadi ajang untuk konsolidasi, memperbaiki dan menyatukan arah dakwah, digunakan sebagai ajang perdebatan, halaqah yang biasanya dipenuhi cinta dan ketenangan, berubah menjadi tangis dan kekacauan.
Perbedaan yang sebenarnya kecil, bisa berubah menjadi besar dan berujung konflik antar lembaga dalam menentukan arah dan strategi dakwah.
Namun sekali lagi, ini bukanlah kehancuran, karena pada hakikatnya, ini adalah proses menuju kedewasaan dalam mengelola perbedaan.
Dakwah kampus memang memiliki keunikan, dinamis dan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Maka, tidak heran jika permasalahan dan tantangan juga tinggi dan beragam. Namun, disinilah letak dari proses pembelajaran, pendewasaan dan persiapan yang matang sebelum terjun ke masyarakat.
Pertengkaran kecil itu akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan, menjadi perekat yang sangat kuat dalam persaudaraan. Menjadi sebuah kerinduan.
Dan akhirnya, kelulusan seakan menjadi akhir dari perjalanan, mereka mulai berpisah, ada yang tetap istiqomah melanjutkan dakwah dan tarbiyahnya, baik di kampus atau di masyarakat, namun ada juga yang berhenti dari dakwah dan tarbiyah, dan memilih jalannya sendiri.
Itu semua plilihan, yang pasti romantisme dakwah kampus telah membuat mereka dewasa, mempererat ikatan hati mereka, mengekalkan cintanya, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan.
Semoga Allah membimbing, memberi keistiqomahan dalam langkah mereka, dalam jalan mereka, mengekalkan cinta mereka, memberikan azam dan tekad dalam dakwah dan tarbiyahnya, dan mempersatukan mereka di dunia dan di surgaNya.

*Didedikasikan kepada Aktivis Dakwah Kampus di seluruh Indonesia, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah (FSLDK), dan khusus kepada sahabat perjuangan di kampus putih biru, Bandung Selatan.
Dakwah tak akan mati, tapi kita akan mati.
Kita akan mati sebagai pengemban Dakwah atau Mati sebagai beban bagi Dakwah?
Bergerak, dan terus bergerak, untuk kebangkitan Dakwah Kampus.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 September 2011 in Dakwah, FSLDK

 

Menghimpun Potensi Kebaikan


Malam itu, suasana yang dingin terasa begitu hangat.
Hujan yang mengguyur selatan Jakarta sejak sore, seakan begitu hangat dalam nuansa ukhuwah.
Malam itu, adalah malam bina iman dan takwa bagi para kader Tarbiyah.
Mereka adalah potensi-potensi kebaikan yang dikumpulkan untuk menghasilkan daya tarik yang besar bagi agenda dakwah ini.

Materi malam itu memang tidak berkaitan dengan potensi kebaikan, tentang silaturahim sebenarnya, namun ada kaitan yang sangat dekat dakwah dan potensi kebaikan.

Mari sejenak kita baca kembali sejarah, tentang silaturahim Rasulullah saw kepada keluarganya, kepada sahabat dekatnya yang mengajak mereka kedalam islam. Dalam konteks silaturahim, Rasulullah mengutamakan keluarga dekatnya terlebih dahulu untk menerima dakwah ini, atau setidaknya mendapat dukungan dan simpati dengan dakwah ini. Selain itu, Rasul juga menghimpin sahabat-sahabatnya yang berpotensi untuk membantu dakwah ini, menjadi magnet sehingga mampu memberi daya tarik yang besar. Seperti kita ketahui, ada Abu Bakar Ash Shidiq seorang saudagar dan juga tokoh di kota mekah saat itu. Ada juga sahabat Utsman bin Affan, seorang pedagang yang kaya, Hamzah bin Abdul Mutholib yang ditakuti karena kekuatan dan ketangguhannya dalam berperang. Dan sahabat-sahabat lainnya yang menjadi kekuatan dalam menyebarkan islam di kota Mekah saat itu.

Pelajaran pertama dari sepenggal kisah diatas adalah silaturahim kepada keluarga dan sahabat terdekat, serta sahabat yang memiliki potensi kebaikan dan kekuatan dalam menyebarkan dakwah ini.
keluarga yang akan menjadi tameng pertama ketika menghadapi serangan dari para musuh dakwah. keluarga yang akan menjadi sumber kekuatan bukan penghalang.
Potensi yang kedua ada pada sahabat terdekat. ya, karena merekalah yang mengetahui diri kita, mengetahui kejujuran kita, mengetahui aktivitas kita sehingga mereka yang harus kita ajak, yang harus kita berikan pemahaman tentang dakwah ini karena merekalah yang nantinya akan menjadi teman perjuangan.
dan selanjutnya, adalah tokoh, pemuka masyarakat, pengusaha sukses, orang yang kuat secara fisik mungkin dan lainnya yang kiranya bisa menjadi penyokong dan pembela dakwah ini yang telah memiliki daya tarik yang besar dilingkungannya.

Mari kita baca juga memoar Imam Syahid Hasan Al Bana.
dalam suatu majlis yang beliau adakan, beliau didebat atau ditantang oleh seorang yang hadir saat itu tentang islam. Saat itu memang sangat sedikit orang-orang yang hadir pada majlis Hasan Al Bana, karena memang beliau baru memulai menyebarkan dakwahnya. Namun, Hasan Albana tahu kalau orang tersebut hanya mengetes pengetahuannya. Dengan begitu bijak dan penuh hikmah beliau menjawab dan menjelaskan apa yang ditanyakan oleh orang itu. Namun, karena tidak terima orang tersebut malah pergi dari majlis beliau.
Setelah selesai, ustad Hasan Albana kemudian membeli beberapa buku dan memberikannya kepada sang penannya tadi.
Esoknya, sang penanya tadi mengajak seluruh teman-temannya untuk menghadiri Majlis ustad hasan Albana.

Mari kita petik hikmah dari kisah diatas. Kunci dari tersebarnya dakwah dan kuatnya jama’ah adalah silaturahim. Ya! betul! Meskipun kepada orang yang mengejek atau berbuat jahat kepada kita sekalipun.

Silaturahim,cara kita menyambungkan kasih sayang, cara dakwah memperkenalkan dirinya, cara yang lebih mempunyal hasil yang dapat diukur adalah dengan Silaturahim. Kepada Keluarga, Sahabat, Tokoh, dan manusia-manusia lainnya yang berpotensi dalam memberi gaya tarik yang besar dalam menopang beban dakwah ini.

Semoga para kader (yang malam itu hadir dan juga yang berhalangan) bisa saling bersilaturahim dalam membentuk dan menghimpun potensi kebaikan. Dimanapun kita berada.
Wallhu’alam.

Jakarta, 14 Mei 2011.
Ditulis pada tanggal 16 Mei 2011
@ Markaz Jatipadang

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Mei 2011 in Dakwah