RSS

Arsip Kategori: Renungan

Beginilah Cara Allah menegur kita

IMG-20141221-WA0002

Ikhwah fillah, semoga Allah membersamai setiap langkah dakwah ini.

Pernahkah suatu ketika, kita dalam keadaan yang tidak punya kesibukan apa-apa selain kerja dan mengurus rumah tangga?

Padahal, sepak terjang dan pengalaman kita dahulu adalah seorang aktivis pergerakan yang sibuk mengurus kepentingan umat.

Kemudian tanpa sangka, Allah takdirkan kita untuk mengemban amanah besar yang membuat kita harus mengorbankan waktu-waktu santai kita. Amanah yang tidak kita inginkan dan kita tidak duga akan mengembannya.

Maka, inilah mungkin cara Allah swt menegur kita dan memberikan kasih sayangnya kepada kita. Atau mungkin juga inilah ujian yang Allah berikan untuk menguji kapasitas kita berdasarkan pengalaman dan sepak terjang sebelumnya. Ibarat kata pemain bola yang bersinar pada masanya, yang kemudian redup, dan kembali dipanggil untuk mengembalikan masa jayanya.

Maka, inilah masanya, kita membuktikan kemampuan kita, memberikan kontribusi terbaik kita sebagai hamba kepada Allah swt .

Bersyukurlah kita, Allah swt masih menegur kita, dan membangkitkan kita, dari tidur dan santai yang berkepanjangan. Itu artinya Allah masih menyayangi kita.

Bergerak, Berlayar dalam samudra kehidupan.

 

Tag: ,

Di Penghujung Malam

Dalam keheningan malam
Suara angin yg berhembus pelan
Rasa dingin yang merasuk ringan
Menemani setiap doa dan harap setiap insan
Diatas sajadah yang terbentang
Dalam sujud yang panjang
Dalam pakaian ketakwaan
Dengan tangis sedu sedan
Kata demi kata terucap lirih
Merangkai kalimat-kalimat indah
Mengharap dengan penuh gundah
Akan keinginan yang tak jua singgah
Teringat akan firman pemilik bumi
Allah yang maha menyayangi
Yang senang melihat tangis ini
Tangis hamba yang berserah diri
Menanti kabul dari penguasa hati
Dalam nikmatnya doa
Engkau memanggil dengan penuh cinta
Menggema di alam semesta
Menyingkap selimut para pendosa
Menutup malam panjang para perindu surga
Dalam sujud terakhir kami meminta
Harap demi harap kami meminta
Akan Kebahagiaan dunia
Dan kenikmatan surga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Oktober 2011 in Renungan

 

Doa Yang Berjalan

Terlalu sayang kalau hidup ini dipenuhi dengan kutukan. Segala yang kita lihat, kita temui, dilalui dengan sumpah serapah. Bahkan kadang banyak sebagian dari kita yang mengawali paginya dengan pertengkaran,antara istri dengan suami,ayah dengan anak meski karena hal kecil, karena bangun kesiangan, sarapan yang kurang, anak belum mandi, dan lain sebagainya.
Ketika keluar rumah pun masih diliputi kekesalan sehingga apa yang dilewati menjadi ajang pelampiasan, bahkan terhadap tetangga sendiri.
Semua itu hanya akan membuat hati tidak nyaman, penuh amarah dan kekesalan yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri tapi juga orang lain. Akibatnya, ia akan menjadi dijauhi dan mendapat doa yang tidak baik dari sekitar.
Seperti kisah seorang pemuda yang tiap malam mabuk-mabukan dan suka membuat kegaduhan. Banyak warga yang merasa kesal, dan banyak yang mendoakan kematian. Tidak berapa lama, pemuda tadi tewas dalam kecelakan.
Apakah kita ingin seperti pemuda tadi? Yang selalu mendapat doa keburukan?
Maka jadilah doa yang berjalan.
Setiap kejadian yang kita lihat,yang kita alami, selalu selipkan doa kebaikan. Di rumah kita, terhadap pasangan hidup kita, terhadap anak kita, terhadap orang tua kita, sirami amarah dengan doa kebaikan. Maka doa kebaikan akan menenangkan hati kita. Keluar rumah dengan doa, lihat tetangga, doakan mereka, dalam perjalanan, macet, dalam kondisi apapun, selipkan doa kebaikan kita. Melihat pengemis, melihat pengamen, penjual koran,Petugas kebersihan, anak jalanan, sopir angkutan, dan lain sebagainya. Selipkan doa kebaikan untuk mereka, doa agar mereka mendapat hidayah.
Dan jadilah pribadi yang baik terhadap lingkungan sekitar, terhadap siapa saja yang kia temui dalam perjalanan. Maka mereka akan mendoakan kebaikan untuk kita. Bukankah doa yang dilakukan tanpa sepengetahuan kita akan dikabulkan oleh Allah swt?
Maka dua hal yang penting, mendoakan orag lain dan berbuat baik terhadap orang lain.
Maka, kita akan mnjadi doa yang berjalan, mendoakan orang lain dan di doakan orag lain dalam kebaikan.

 
 

Bersama ROHIS, Ku tetapkan Yakinku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
sahabat-sahabat Kerohanian Islam atau sering dikenal ROHIS di seluruh Indonesia, baik tingkat menengah ataupun atas, semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam jalan kalian, dalam keikutsertaan kalian baik aktif ataupun pasif.
Saya hanya ingin sedikit sharing dengan kalian, tentang ROHIS ini, tentang pengalaman, tentang cerita suka dan duka, tentang manfaat teman-teman bergabung dengan ROHIS.

ROHIS, sebuah lembaga yang telah membesarkanku, mendidik dan mengajarkan tentang berbagai hal.
ROHIS merupakan satu lembaga ekstrakulikuler yang lengkap menurut pandangan saya,
ia mengajarkan untuk berorganisasi,
ia mengajarkan untuk dakwah dan ibadah,
ia mengajarkan untuk membina lingkungan sekolah,
ia mengajarkan untuk perencanaan kegiatan,
ia mengajarkan untuk komunikasi efektif,
ia mengajarkan untuk olahraga dan pendidikan jasmani,
ia mengajarkan untuk berjiwa sosial kemasayarakatan,
ia mengajarkan untuk menjadi pemimpin sejati,
ia mengajarkan segala hal yang kita butuhkan dan segala hal yang tidak kita butuhkan tapi bermanfaat untuk kita.

Namun satu hal yang tidak akan ditemui di ekskul manapun adalah ROHIS bisa menjadi jalan Hidayah bagi siapapun termasuk pengurus dan anggotanya. inilah yang akan kita bahas teman-teman.
Jalan kebaikan, jalan petunjuk dan jalan hidayah, insya Allah.
Meskipun kita tidak merasakannya ketika aktif di ROHIS, tidak merasakan seketika itu juga,
tapi yakinlah, suatu saat, kita akan menemukan sentuhan tersembunyi yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini.
Mungkin ketika kuliah, atau setelah kerja, atau bahkan ketika tua renta, kita baru teringat, bahwa awal mula kita mengenal tarbiyah islamiyah (pembinaan islam) adalah di ROHIS ini.
Awal yang mengubah emosi jiwa menjadi jiwa yang teduh penuh cinta,
mengubah dosa menjadi amal pahala,
mengubah rasa takut menjadi berani penuh semangat,
mengubah cara pandang negatif menjadi positif,
Semua mungkin berawal dari sini, dari ROHIS ini.

Oleh karena itu, saya hanya ingin berpesan,
Siapapun kita, apapun latar belakang kita, semaksiat-maksiatnya kita, jangan sampai kita meninggalkan organisasi ini, karena ia adalah jalan yang Allah sediakan, untuk membuka hati, membuka emosi, membuka jalan hidayahNya.
Jalan yang menghadirkan pelaku-pelaku kebaikan,
jalan ukhuwah dan kebersamaan yang erat menyatukan semua potensi kejujuran,
jalan yang suatu saat akan membuat kita sadar, bahwa disinilah kita dibesarkan,
dengan segudang masalah,
Tetaplah berada bersama para pelaku kebaikan,
niscaya kebaikan itu akan mengikutimu,
dan akan mengubah paradigmamu,
bahkan mengubah maksiat-maksiatmu,
Yakin dan tetapkan tekadmu,
inilah jalan terbaik untuk masa depanmu,
bersama ROHIS, aku tetapkan yakinku.

Untuk sahabat ROHIS diseluruh Indonesia, para alumninya,
khusus ROHIS SMA N 55 dan Keluarga Alumni Rohis SMA N 55 (KARIMA),
mari kita bersama menjadi penerus peradaban,
yang melahirkan generasi-generasi rabbani,
mari kita sambut seruan yang mulia,
mari bersama ikuti langkah perjuangan,
di medan dakwah sekolah kita tercinta.

FAJAR FATAHILLAH
– Alumni ROHIS SMAN 55 Jakarta (2004-2006)
– Keluarga Alumni Rohis SMAN 55 (KARIMA)

18 Syawal 1432 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 September 2011 in Biografi, Dakwah, Renungan

 

Hargai orang yang menurut kita tidak berharga


Apa yang ada jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan

Itulah salah satu penggalan nasyid Mengemis Kasih. Yang menggambarkan tabiat manusia.
Selalu melihat kearah yang sangat jauh. Impian, angan-angan, dan segala parameter kesuksesan seseorang.
Motivasi yang sangat tinggi, kerja keras tiada henti, seakan menjadi hal yang harus menjadi semangat sejati.
Dalam perjalanan kesuksesan, kadang kita menghalalkan berbagai cara, kadang kita tidak peduli sesama.
Kita, sekana-akan menjadi hebat karena kerja keras kita, kita merasa bangga dengan jabatan, harta, dan segala hal yang sifatnya semu dan relatif.

Namun, sadarkah kita, bahwa, dibalik kesuksesan kita, dibalik rizki yang melimpah, kedudukan yang tinggi, rumah megah mobil mewah, (Amiin ^_^) ada peran dari orang-orang disekita kita.

Orang-orang yang tidak pernah kita perhatikan, orang-orang yang selalu mendoakan, orang-orang yang selalu memaafkan, yang karena mereka kita menjadi sukses.

Seperti beberapa kisah dalam sejarah, dalam riwayat, pada jaman Rasulullah saw. banyak cerita sahabat yang masuk surga karena menolong orang lain, banyak sahabat yang sukses kerana menghargai sahabat lainnya. sungguh indah.

Dan, seperti itulah sunatullah. Allah akan memudahkan urusan seseorang jikalau orang itu mempermudah urusan saudaranya.
dan dalam hadis yang lain, sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. dan banyak lagi hadis yang menjelaskan tentang hablu minannas ( hubungan kepada / dengan manusia), yang bisa menjadi jalan kebahagian kita, jalan kesuksesan kita, dan juga jalan akhirat kita.

Teman kita, adik atau kakak, ibu dan ayah, tetangga, tukang sampah, tukang ojeg, sopir bus, satpam, petugas kebersihan, karyawan kantor, insinyur, dokter, dan semua tingkatan kedudukan, semua jabatan adalah patut kita hargai, karena mereka merupakan sekumpulan harmoni yang menjadikan hidup semakin indah, penuh warna, dan seimbang. dan bukan tidak mungkin, mereka merupakan jalan bagi kita menuju syurga Allah, karena kita menghargai mereka, karena kita menolong mereka, karena kita bagian dari mereka juga.

Menghargai, tidak hanya berlaku bagi manusia kepada manusia, tetapi juga, bagaimana kita menghargai waktu kita, menghargai waktu orang lain, menghargai barang-barang milik kita dan menghargai barang-barang milik orang lain. Perhatikanlah apa yang ada disekitar kita, dan hargailah mereka, hargailah apa yang ada disekitar kita, maka kita akan menjadi berharga di mata orang lain dan juga berharga dihadapan Allah swt.

Wallahu’alam

Jakarta, 16 nop 2010
referensi: majalah Tarbawi dengan banyak interpretasi saya pribadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 November 2010 in Renungan

 

Antara Cinta dan Kesabaran Karena Allah


“Aku cinta kamu. maukah kamu jadi pacarku?”, ungkap seoarang laki-laki terhadap wanita pujaan hatinya. Namun, apakah benar yang diucapkannya adalah Cinta?

Pertanyaan yang sebenarnya dapat dijawab dengan kenyataan, tentang akhir atau proses dari kisah perjalanan yang namanya “PACARAN”, yaitu Putus.
apakah seperti ini yang dinamakan CINTA?

Cinta yang hanya sesaat itu bukanlah Cinta, tetapi nafsu syahwat. Karena cinta menurut salah seorang narasumber, (maaf, saya lupa siapa namanya) bahwa cinta itu adalah kata kerja. Kerja yang berlangsung secara terus menerus.

Cinta itu adalah kesabaran.
sabar dalam menahan hawa nafsu terhadap lawan jenismu.
sabar dalam menjaga pandangan.
sabar dalam menjaga pikiran.

dan ketika waktunya tiba, maka kesabaran itulah cinta yang sesungguhnya.
dengan sabar dan cinta, dua orang yang telah halal, mampu berjuang dalam setiap perjalanan rumah tangganya.
Mampu tegar dan sabar dalam setiap ujian,
Mampu ikhlas dan lapang dada dalam setiap kehilangan,
Mampu berkorban untuk pasangan,
karena cinta dan kesabaran, bagaikan dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

ketika kita mencintai seseorang, maka kita harus bersabar terhadap kelebihan dan kekurangannya.
dan Cinta, yang dibingkai dengan sabar, itulah cinta yang hakiki,
Cinta dan sabar juga harus mempunyai bingkai,
yang menjaganya dan memberinya kekuatan,
yaitu mengharap Ridho Allah swt.

Karena cinta dan sabar, seorang suami mampu merawat istrinya yang lumpuh selama 25 tahun,
karena cinta dan sabar, seorang istri tetap memuliakan suaminya,
Karena cinta dan sabar, mampu mengubah masalah menjadi ibadah,
Karena cinta dan sabar, adalah titah dari Allah yang Maha Mencintai.

Jakarta, 08 November 2010

Fajar Fatahillah

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 8 November 2010 in Renungan

 

Cinta Dunia

“Andai engkau tergila-gila dalam beribadah kepada-Ku, sebagaimana engkau tergila-gila pada dunia, maka Aku akan memberikan kemuliaan kepadamu sebagaimana kemuliaan para rasul. Oleh sebab itu, janganlah engkau penuhi hatimu dengan gila pada dunia karena tak lama lagi dunia ini akan hancur ”. (dari Tahajud Call bandung Selatan)

Sahabat, begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan pada diri kita. Namun kita senantiasa lupa dan tiada pernah bersyukur atas nikmat yang tiada terkira itu. Sehingga, yang terjadi pada sebagian besar umat manusia saat ini adalah mereka yang sangat cinta terhadap dunia dan melupakan akhirat. Mereka rela untuk bekerja siang dan malam mencari nafkah,mencari uang,tapi lupa akan ibadah untuk bekal akhirat. Mereka berjuang untuk mendapatkan jabatan,tahta,pangkat, dan kedudukan yang terhormat di hadapan manusia,Tapi mereka lupa untuk berjuang mendapatkan kedudukan di hadapan Allah swt. Mereka bersusah payah mendapatkan perhatian dan cinta dari wanita atau pria yang dicintainya,tapi lupa untuk mendapatkan cinta-Nya yang kekal dan abadi. Mereka tergila-gila dalam mendapatkan segala kesenangan dunia,menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya,mencuri,korupsi,saling membunuh,menjatuhkan pangkat,menghujat,dan segala cara-cara yang tidak sesuai syariat yang dilakukan untuk mendapatkan ambisinya. Mengejar dunia!

Ingatlah sahabat!
Dunia tak seindah dimata.Dunia negara bala. Penuh dengan tipu daya syetan. Dunia ini pasti hancur. Dunia ini hanya sebentar. Dunia ini hanyalah jembatan menuju muara yang kekal abadi! Dunia ini diibaratkan dengan perumpaan kita mencelupkan jari telunjuk ke sebuah samudra yang sangat luas, lalu ketika jari telunjuk itu diangkat,jatuhlah setetes air,hanya setetes air dari telunjuk kita. Itulah dunia, setetes air dari luasnya samudra.

Oleh karena itu,kita harus bijak,hati-hati dan mempersiapkan bekal yang cukup untuk menuju muara yang kekal selamanya. Samudra luas yang tiada berujung,tiada bertepi. Surga jannati.
Raihlah pahala sebanyak-banyaknya, kita harus boros dalam beramal dan beribadah,dan kikir dalam maksiat. Kita harus berinvestasi jangka panjang yang banyak, spekulasi, dan tiada usah kita hitung untung rugi, karena ia pasti untung, yakni investasi akhirat.

Bandung, 5 Februari 2010 / 20 Shafar 1431 H

Fajar Al Fath Fatahillah

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Februari 2010 in Renungan